GERAKAN LITERASI MEDIA INDONESIA Dyna Herlina

ISBN:

Published:

Paperback

94 pages


Description

GERAKAN LITERASI MEDIA INDONESIA  by  Dyna Herlina

GERAKAN LITERASI MEDIA INDONESIA by Dyna Herlina
| Paperback | PDF, EPUB, FB2, DjVu, audiobook, mp3, ZIP | 94 pages | ISBN: | 4.56 Mb

Gerakan Literasi Media di IndonesiaDunia sehari-hari kita adalah kenyataan yang termediasi. Media menjadi bagian dari hidup sehari-hari yang seolah-olah menjadi kenyataan itu sendiri. Ada beberapa hal yang membedakan media dengan kenyataan. MediaMoreGerakan Literasi Media di IndonesiaDunia sehari-hari kita adalah kenyataan yang termediasi. Media menjadi bagian dari hidup sehari-hari yang seolah-olah menjadi kenyataan itu sendiri.

Ada beberapa hal yang membedakan media dengan kenyataan. Media adalah hasil dari konstruksi kenyataan. Media memiliki implikasi komersial, ideologis dan politik. Bentuk dan isi media terkait dengan medium yang digunakan, artinya tiap jenis media memiliki kode dan kebiasaan yang berbeda.Agar dapat memahami realitas media, seseorang dituntut memiliki sebuah ketrampilan baru yaitu literasi media.

Gerakan yang relatif baru di Indonesia ini didorong oleh beberapa alasan (Buckingham, 2004). Pertama, moral panic karena media dianggap sebagai sumber dari berbagai masalah degradasi moral seperti kekerasan dan seksualitas. Kedua, the plug-in drug, kehadiran televisi memengaruhi dinamika keluarga dan kesehatan anak. Ketiga, media menciptakan prilaku konsumtif karena penonton diterpa iklan terus menerus dan di sisi lain media menjadi saluran penyampaian ideologi yang dianggap salah.Ada banyak definisi mengenai literasi media.

Secara ringkas dan komprehensif, Sonia Livingstone (2003) menjelaskan bahwa literasi media adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan mengkomunikasikan pesan dalam berbagai bentuk medium. Melalui pendidikan bermedia diharapkan seseorang dapat merefleksikan nilai-nilai pribadinya, menguasai berbagai teknologi informasi, mendorong kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah dan kreatif, dan mendorong demokratisasi.Pendidikan bermedia dapat dijalankan melalui beberapa model (Buckingham, 2004). Pertama, protectionist model yang berangkat dari asumsi bahwa budaya popular yang ditawarkan media bersifat lebih rendah nilai daripada budaya klasik.

Selain itu, penonton seharusnya memilih tontonan yang baik dan menghindari konten media yang buruk. Karena penonton memiliki kemampuan yang terbatas, pendidik menyediakan aturan baginya. Oleh karena itu metode literasi media yang diterapkan adalah diet media, pengaturan jadwal menonton, klasifikasi tontonan dan sejenisnya.Kedua, uses and gratification model yang mengandaikan bahwa penonton adalah entitas aktif yang memiliki kemampuan luar biasa untuk memilih memilih dan memilah sendiri konten media. Metode ini berusaha mempersiapkan peserta didik untuk memiliki kemampuan diri sehingga dapat membuat keputusan sendiri dalam memilih media.

Kemampuan ini berkaitan dengan pengentahuan konten media.Ketiga, cultural studies model yang beranggapan bahwa pengertian budaya sangat luas sehingga mencakup lingkungan sosial. Sehingga pendidikan bermedia juga harus mencakup ranah yang lebih luas yaitu kesadaran politik. Audiens diharapkan mampu tidak sekedar memilih dan memahami konten media tetapi juga bersikap terhadap isu-isu di media. Sehingga demokratisasi dapat berjalan.Keempat, Active Audience Model (Inquiry Model), metode ini yakin bahwa audiens mampu mengintrepretasikan konten media berdasarkan latar belakang pengetahuan yang dimiliki.

Jadi penonton yang memiliki latar belakang sosial dan kultural yang berbeda akan memahami media dengan cara yang berbeda.Dalam buku ini, keempat model tersebut ternyata terjadi di Indonesia. Jika di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris model pendidikan media bergerak berubah dari model proteksionisme menuju model cultural studies dan active audience, maka di Indonesia keempat model itu diterapkan bersamaan oleh kelompok yang berbeda.

Perbedaan pilihan metode ini disebabkan oleh perbedaan asumsi mengenai sifat audiens sendiri. Jika pendidik literasi media menganggap khalayak bersifat pasif maka protectionism model yang dipilih sebaliknya jika audiens dianggap aktif maka cultural studies dan active audience yang digunakan.



Enter answer





Related Archive Books



Related Books


Comments

Comments for "GERAKAN LITERASI MEDIA INDONESIA":


giantclaim.com

©2009-2015 | DMCA | Contact us